
Hari Valentine yang diperingati setiap tanggal 14 Februari dikenal luas sebagai momen untuk mengekspresikan kasih sayang. Perayaan ini sering dikaitkan dengan pemberian perhatian kepada pasangan, keluarga, maupun orang terdekat. Valentine memang bukan tradisi yang lahir dari budaya Indonesia, tetapi telah dikenal dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat sebagai simbol universal tentang cinta dan kepedulian.
Jejak sejarah Hari Valentine berangkat dari kisah Santo Valentinus yang hidup pada masa Kekaisaran Romawi. Dikutip dari Kompas.com, Valentinus dikenal sebagai tokoh yang menentang larangan Kaisar Claudius II terkait pernikahan bagi prajurit muda. Valentinus tetap menikahkan pasangan secara diam-diam sebagai bentuk pembelaan terhadap cinta dan komitmen. Tindakan tersebut membuatnya dihukum mati pada tanggal 14 Februari, yang kemudian dikenang sebagai simbol keberanian dalam memperjuangkan cinta.
Makna Hari Valentine sendiri terus berkembang seiring perubahan zaman. Valentine tidak lagi dipahami hanya sebagai kisah romantis masa lalu, melainkan sebagai perayaan nilai kasih sayang yang lebih luas. Dilansir dari Detik.com, generasi muda saat ini memaknai Valentine sebagai momentum untuk menunjukkan perhatian dalam berbagai bentuk, termasuk persahabatan, keluarga, dan penghargaan terhadap diri sendiri (self love. Pola ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu bersifat eksklusif, tetapi dapat hadir dalam relasi sosial yang beragam.
Cara masyarakat Indonesia memandang Valentine juga dipengaruhi oleh nilai budaya dan norma sosial. Sebagian masyarakat memilih untuk tidak merayakan Valentine secara khusus. Sikap tersebut lebih didorong oleh kehati-hatian dalam menyerap budaya luar, bukan penolakan terhadap nilai kasih sayang itu sendiri.
Pemaknaan Valentine yang semakin fleksibel menunjukkan adanya proses adaptasi budaya. Ungkapan cinta tidak selalu diwujudkan melalui simbol tertentu, tetapi melalui tindakan sederhana yang bermakna. Hari Valentine pada akhirnya menjadi ruang refleksi tentang bagaimana kasih sayang diekspresikan sesuai dengan nilai, keyakinan, dan konteks sosial masyarakat Indonesia.
Penulis: Yuriken Dewi
Editor: Dinar Emilia
Dokumentasi: Unsplash.com
