
Pada era yang serba digital ini, media sosial bukan hanya digunakan sebagai sarana komunikasi semata, tetapi juga telah menjadi salah satu faktor pembentuk gaya hidup manusia. Media sosial berperan besar dalam membentuk cara pandang individu terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Apa yang dilihat dari layar ponsel sering kali memengaruhi cara berpikir seseorang. Ketika melihat standar hidup, pencapaian, hingga fisik seseorang yang tampak sempurna, individu dapat merasa bahwa hidupnya tidak cukup baik, sehingga secara perlahan menurunkan rasa syukur terhadap apa yang dimiliki.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Niu dkk. dalam Journal of Economic Psychology menyatakan bahwa paparan secara terus menerus terhadap konten gaya hidup mewah di media sosial, dapat meningkatkan kecenderungan Social Comparison (perbandingan sosial) sehingga berakhir pada perilaku belanja impulsif demi menjaga gengsi sosial semata.
Munculnya rasa akan takut ketertinggalan atau yang biasa disebut sebagai Fear of Missing Out (FOMO) merupakan dampak paling nyata dari perpaduan antara teknologi dengan psikologi manusia. Media sosial secara terus menerus menyajikan informasi terkait dengan hidup seseorang, mulai dari keberhasilan, kebahagiaan, hingga kemewahan. Hal tersebut dapat memicu terjadinya tekanan psikologis individu sehingga muncul rasa untuk selalu ingin mengikuti tren baru, agar tidak merasa tertinggal dan terkucilkan.
Implikasi Media Sosial terhadap Gaya Hidup
- Lifestyle Inflation: banyak orang memaksakan gaya hidup yang melampaui kemampuan finansialnya hanya untuk mendapatkan validasi sosial.
- Konsumerisme: media sosial seperti Instagram dan TikTok merupakan media sosial yang mengandalkan visual, sehingga hal tersebut dapat memicu lahirnya budaya konsumerisme estetika. Alih-alih membeli barang berdasarkan fungsinya, kini banyak orang membeli barang berdasarkan unsur keindahannya (estetika).
- Pergeseran interaksi sosial: meskipun terhubung dengan ratusan hingga jutaan orang secara daring, kualitas interaksi secara langsung juga menurun. fenomena phubbing menjadi pemandangan yang umum ketika sedang berkumpul dengan teman. fenomena phubbing merupakan keadaan dimana seseorang memfokuskan dirinya dengan ponselnya hingga mengabaikan orang yang berada di depannya.
Kita sering lupa bahwa apa yang terlihat di media sosial merupakan bagian kecil yang sudah diatur sedemikian rupa, bukan gambaran utuh dari sebuah kehidupan. Namun, media sosial memberikan inspirasi dan koneksi apabila kita memanfaatkannya dengan baik. Kita perlu menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh algoritma dan kebahagiaan seringkali ditemukan saat kita meletakkan ponsel dan menikmati momen yang ada di depan mata.
Penulis: Puji Rahayu
Editor: Dinar Emilia
Dokumentasi: kompasiana.com
