Ring..ring…ring!!!
Alarm terdengar dengan jelas di samping telinga Elora. Tak lama kemudian ia menatap layar handphone sambil mengerutkan dahi. Enggan untuk bergegas bangun, ia kembali menutup matanya dan memeluk bantal. Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai jendela dan menerangi buku yang berserakan di meja.
Kreek!!
“Kakak, ayo bangun ini sudah pagi. Sarapannya sudah siap, gaun merahnya mama taruh disini ya,” kata mama sambil menggantung gaun merahnya. Pagi itu Elora menyambut hari dengan hangat. Aroma kue nastar dan roll tart dari dapur menyeruak ke udara dan menggoda indera penciumannya. Suasana hatinya sangat berbunga-bunga, ia merasa natal kali ini akan berbeda dengan tahun sebelumnya.
Elora tersenyum kecil menikmati momen-momen bahagia ini. Ayahnya nampak memutar playlist natal di ruang tengah dan seketika melodi natal yang hangat mengalun lembut di rumahnya. Ayah tersenyum, matanya menyapu ruangan yang perlahan terisi oleh aroma kopi dan kue-kue natal.
“Kakak ada telpon nih,” seru mama sambil melihat handphone Elora.
“Dari siapa ma?” tanya Elora.
“Dari Dean kak,” jawab mama.
Elora berlari dan segera mengangkat telpon dari Dean. “Lora, jadi kan gereja bareng entar?” tanya Dean. “Jadi dong, aku ga sabar banget mau ibadah bareng kamu,” jawabnya sambil tersenyum. “Iyaa, nanti aku jemput jam 6 sore ya. See you,” ujar Dean.
*
Tak terasa waktu terus berjalan dan malam pun tiba. Salju mungkin tidak turun di kota ini, tapi gemerlap lampu natal dan aroma coklat hangat memenuhi udara. Elora melangkah keluar dari rumahnya dengan gaun merah yang begitu cantik. Ia tampak seperti bagian dari keajaiban malam itu. Dean yang menunggu di luar dengan senyum hangat, menatapnya takjub.
“Kamu cantik banget malam ini Lora,” ucap Dean lembut dengan penuh kagum.
Elora tersipu malu, berusaha menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Keduanya pun bergegas pergi ibadah untuk merayakan malam Natal. Mereka berjalan berdampingan menuju gereja. Suasana begitu khusyuk, cahaya lilin di sepanjang lorong gereja memberi kehangatan yang menenangkan. Mereka bergandengan tangan saat doa-doa Natal dipanjatkan, seolah ingin mengabadikan momen ini selamanya.
Elora mencuri pandang ke arah Dean, ingin mengingat setiap detailnya. Wajahnya yang teduh, cara dia tersenyum setiap kali melihat anak-anak kecil bermain di halaman gereja. Elora merasa hangat saat menggenggam tangannya. Malam ini adalah malam Natal terakhir mereka bersama sebelum Dean harus kembali ke Bogor untuk menyelesaikan kuliahnya.
Setelah ibadah selesai, mereka menikmati dinner di sebuah cafe bernuansa Natal. Musik Natal klasik mengalun pelan, menambah suasana yang begitu intim di antara mereka.
“Jadi kapan kamu berangkat?” tanya Elora sambil mengaduk coklat panasnya. Dean menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Besok pagi. Tiketku sudah ku pesan.” Elora mengangguk pelan. Dia sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja, mendengarnya langsung terasa rapuh di dadanya.
“Aku akan merindukanmu, Dean.”
“Aku juga. Tapi kita harus kuat, kan? Jarak tidak akan mengubah semua yang sudah kita lalui bersama,” ucap Dean yakin.
Elora tersenyum pahit. Dia ingin percaya pada kata-kata itu, tapi bagian dalam hatinya tahu bahwa perpisahan ini akan lebih sulit daripada yang mereka bayangkan. Mereka menghabiskan waktu mereka setelah makan malam. Mereka berjalan menyusuri taman kota yang dipenuhi dengan lampu Natal berkelap-kelip.
Dean menatapnya lama, seolah ingin mengabadikan wajahnya dalam ingatan. “Elora, aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku ingin kau selalu bahagia,” ucap Dean.
Air mata menggenang di mata Elora. “Aku juga mencintaimu, Dean. Aku akan selalu mengingat malam ini sebagai malam Natal kita yang paling indah,” jawab Elora sambil menahan tangisnya.
Mereka berpelukan dalam hening, menikmati detik-detik terakhir sebelum waktu merenggut mereka dari satu sama lain. Di atas langit, bintang-bintang bersinar terang, seolah turut menjadi saksi atas cinta mereka yang harus diuji oleh jarak.
Malam itu adalah malam terakhir mereka bersama di malam Natal, namun kenangan tentangnya akan selalu abadi dalam hati mereka selamanya. Walaupun realita akan tetap berakhir pahit.
Penulis : Marscheila Virghinie Arauna
Editor : Shazia Mirza
Dokumentasi : Pinterest